Sahabat

Posted: Desember 15, 2009 in Cerpen
Tag:, , ,

Sahabat adalah teman dikala waktu senang dan disaat kita sedang mendapat masalah. Ini adalah kisah empat orang sahabat. Kebetulan mereka satu kelas dan kebetulan juga satu daerah. Mereka adalah Topo, Roni, Erick dan Agung. Keempatnya memiliki karakter yang sangat berbeda-beda. Topo sifatnya pendiam dan rendah hati lain halnya Roni, ia seorang yang gigih dan setia kawan. Erick, dia juga pendiam tetapi ia memiliki semangat yang sekeras seperti baja. Yang terakhir adalah Agung, dia adalah seorang yang lucu, periang dan suka menjahili teman sebayanya. Namun semua perbedaan itulah yang dapat menyatukan mereka hingga mereka menjadi sahabat karib.

Pada suatu hari mereka berempat pergi ke sekolah bersama-sama maklum rumah mereka saling berdekatan.Mereka pergi ke sekolah dengan bersepeda, karena jarak sekolah mereka tidak terlalu jauh dari rumah mereka kira-kira 7 km.

Dalam perjalanan menuju ke sekolah, mereka mendapatkan masalah, sepeda milik Roni bannya bocor terkena paku yang ada di jalan. Saat itu kebetulan juga Roni memboncengkan Agung. “Wah gimana ini malah ban sepedaku pakai bocor segala”,kata Roni. “Ron kayaknya kita harus jalan kaki sambil nuntun nih sepeda”,kata Agung. “Iya juga sih tapi nanti kita terlambat dong”,kata Roni. Di lain pihak Topo dan Erick berfikir untuk segera berangkat ke sekolah supaya tidak terlambat karena mereka takut kena marah Guru BP yang dikenal amat galak dan tidak bisa di ajak kompromi itu. “Kalau begitu aku pergi duluan ya takut telat nih”,kata Erick. “Wah kamu nggak setia kawan banget sih”,kata Roni. “Iya Rick masa kita tega ninggalin Roni sama Agung di sini”,kata Topo. “Oke kalau begitu kita jalan kaki bareng-bareng saja gimana?,tanya Roni. “Oke lah kalau gitu kita sama-sama nuntun sepeda kita”,kata Topo.

Kemudian mereka berempat turun dari sepeda, lalu menuntun sepeda sambil jalan kaki. Perjalananya lumayan cukup jauh apalagi mereka harus melewati jalan yang berada di tengah-tengah sawah. Saat itu juga mereka meresa lelah dan kehausan gara-gara menuntun sepeda.Tapi mereka tidak berfikir untuk beristirahat sejenak untuk melepas lelah. Beberapa menit kemudian sampailah mereka di depan pintu gerbang sekolah.Namun pintu gerbang telah ditutup oleh Pak Satpam.”Pak Satpam yang baik hati tolong bukakan pintu gerbangnya dong”,kata Agung. “Kalian pasti telat lagi ya”,ejek Pak Satpam. “Yee wong baru sekali ini kok Pak”,balas Agung. “Tolong ya Pak masalahnya ban sepeda Si Roni bocor kena paku payung”,kata Agung. Setelah melalui perdebatan dengan Pak Satpam, akhirnya mereka dapat masuk sekolah dengan seizin Pak Satpam tadi. Selepas dari cobaan pertama mereka berempat harus menghadapi cobaan yang kedua yaitu Guru BP mereka yamg terkenal amat galak.”Kayaknya perasaanku nggak enak deh”,kata Roni. “Siap-siap aja disemprot sama Guru itu”,kata Topo.

Mereka kemudian masuk ke ruangan Guru BP, lalu mereka harus mendapatkan izin dari Guru tersebut. Tanpa surat izin atau surat keterangan mereka berempat tidak diperbolehkan masuk ke ruangan kelas untuk mengikuti pelajaran. “Kalian saya berikan surat izin tapi ada hukuman untuk kalian”,kata Guru BP. “Tapi apa nggak salah Pak”,kata Agung. “Kami kan baru sekali ini terlambat Pak”,kata Roni.”Wah ini nggak adil”,bantah Topo.”Iya Pak kami kan punya alasan yang jelas!”,bantah Erick. “Sudah kalian jangan membantah sudah tahu kalian terlambat!”,gertak Si Guru. Mereka berempat tidak ada yang bereni membantah Guru tersebut karena memang Guru itu susuah diajak kompromi. Kemudian mereka mendapatkan hukuman, mereka harus membersihkan halaman belakang sekolah. Mereka harus menyapu halaman yang kotor itu saat pulang sekolah. Satu jam telah berlalu pekerjaan membersihkan halaman belakang sekolah pun telah selesai dan hukuman mereka pun telah mereka selesaikan.

Lalu mereka pulang, dengan penuh rasa lelah dan rasa kesal. Mereka masih harus menyelsaikan masalah yaitu perut yang lapar dan menambal ban bocor.”Ron kayaknya kita istirahat dulu capek nih”,kata Erick.”Ya deh kita istirahat sambil aku cari tambal ban sepeda”,kata Roni. “Kebetulan itu ada warung yang sebelahnya ada bengkel tambal sepeda”,kata Topo sambil menunjuk ke arah bengkel sepeda. Setibanya di bengkel sepeda, Roni langsung menambalkan ban sepeda yang bocor itu. Tak disangka Roni lupa membawa uang sakunya. “Waduh…!Aku lupa bawa uang saku”,kata Roni dengan nada khawatir.Mengetahui bahwa Roni lupa tidak membawa uang maka tiga sahabat tadi bergegas segera menolongnya.”Nggak usah cemas kita bisa nolongin kamu Ron”,kata Agung.”Gimana kalau kita patungan uang semampu kita aja”,kata Topo.”Aku punya dua ribu rupiah”,kata Agung. “Aku ada dua ribu rupiah juga”,kata Topo.”Nih aku juga dua ribu rupiah”,kata Erick.

Lalu mereka menyerahkan uang hasil patungan mereka kepada Roni untuk ongkos menambal ban sepedanya yang bocor. “Makasih ya teman-teman aku jadi nggrepotin kalian aja”,kata Roni.”Nggak usah nggomong kayak gitu biasa saja kita kan sahabat”,kata Agung. “Sambil nunggu nambal ban sepeda gimana kalau kita makan di warung”,tanya Erick kepada tiga temannya. “Kan uang kita masih cukup untuk makan berempat”,kata Topo. “Oke deh kita makan di warung sebelah”,ajak Si Agung. Lalu mereka berempat menuju ke warung sebelah untuk makan. Dan kebetulan harga makanan di warung tersebut lumayan terjangkau dan pas dengan kantong para pelajar seperti mereka. Rasa lelah dan kesal pun hilang dalam sejenak,setelah ban selesai ditambal dan perut mereka sudah terisi makanan mereka pun segera melanjutkan perjalanan pulang.

Di sekolah mereka sering dijuluki Empat Sekawan, mungkin karena mereka kemana-mana selalu bersama-sama dan selalu kompak.Mereka tidak sombong tetapi ada juga salah seorang siswa di sekolah mereka yang sirik dengan kekompakan mereka berempat. Bel jam terakhir berdering tanda semua pelajaran di kelas telah usai.

Semua siswa meninggalkan kelas dan menuju ke parkir sepeda. Tak disangka-sangka salah seorang siswa ada yang merusak sepeda milik Si Agung. Kemudian mereka berempat menghampiri seorang sisiwa yang tak bertanggung jawab itu. Ternyata anak itu adalah anak yang terkenal paling jahil di sekolah mereka. Anak itu ternyata juga menantang Si Agung untuk berduel. Agung pun tak terima dan menantangnya untuk berkelahi. Walaupun kalah fisik Agung tetap membela diri kaerna ia tahu bahwa ia di pihak yang benar. Maka dari itu Agung berani melawan anak yang angkuh itu.

Kemudian terjadilah perkelahian itu, Agung mukanya babak belur akibat terkena tonjokan dari anak itu. Melihat keadaan itu ketiga teman Agung tidak tega temannya dipukuli. Mereka pun ikut membantu melawan anak itu. Akhirnya anak itu lari ketakutan karena takut dikeroyok oleh ketiga teman Agung.

Setelah perkelahian itu selesai Topo, Roni dan Erick mengantar Agung pulang ke rumah. Mereka bertiga memapahnya pelan-pelan.”Makasih ya .. kalian sudah nolongin aku tadi”,kata Agung. “Aku nggak terima salah satu dari kita dianiyaya orang lain”,kata Roni. Tiba di rumah Agung mereka bertiga menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi pada orang tua Agung.

Dan mereka pun menceritakan apa yang terjadi pada mereka walaupun orang tua mereka melarang untuk berkelahi tetapi mereka dalam keadaan terjepit untuk menolong sahabat mereka yang sedang dalam kesusuahan. Mereka tahu mereka memang salah tetapi tindakan mereka itu didasarkan atas dasar kesetiakawanan dan alasan itu dapat di terima oleh orang tua mereka.

Komentar
  1. ainun mengatakan:

    wah,pengalaman pribadi yo Lim?hahaaa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s