Tauhid 24 Karat

Orang-orang yang telah memurnikan tauhidnya sehingga di hari kiamat kelak dia bertemu dengan Allah dalam keadaan bersih tanpa dosa, maka dia akan masuk surga tanpa hisab dan azab.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa bersaksi tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, tidak ada sekutu baginya, dan bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang diberikan kepada Maryam dan ruh ciptaan-Nya. Dan bersaksi bahwa surga benar adanya, dan neraka benar adanya, Allah akan memasukkan dia ke dalam surga dengan amal yang dimilikinya”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Mencapai puncak keutamaan tauhid dengan memurnikannya

Memurnikan tauhid adalah dengan membersihkannya dari segala noda syirik dan bid’ah serta maksiat. Dalam memurnikan tauhid, manusia terbagi menjadi 2 tingkatan, semakin tinggi tingkatannya semakin besar pula keutamaan yang didapatkan. Tingkatan yang dimaksud adalah:

1. Tingkatan wajib

Yaitu seseorang yang memurnikan tauhidnya dengan melaksanakan kewajiban dan meninggalkan segala jenis kesyirikan baik besar ataupun kecil. Dia juga meninggalkan segala bentuk bid’ah. Tingkatan ini merupakan batas minimal seorang dikatakan telah memurnikan tauhidnya dan mendapatkan keutamaan masuk surga tanpa dihisab.

2. Tingkatan mustahab

Yaitu seseorang yang telah mencapai derajat wajib dalam memurnikan tauhid, namun disamping itu dia juga mengerjakan amalan sunnah dan meninggalkan perkara yang makruh bahkan sebagian perkara yang dibolehkan karena takut terjerumus dalam keharaman.

Kedua tingkatan itu yang dimaksud dengan ‘Muqtasid’ dan ‘Sabiqun bil khoirot’ dalam surat Fathir ayat 32, dimana Allah membagi manusia dalam bertauhid menjadi 3 tingkatan, Allah berfirman (yang artinya), “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri (zholim linafsihi) dan di antara mereka ada yang pertengahan (muqtasid) dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan (sabiqun bil khoirot) dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”. (QS. Fathir : 32)

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan tentang ketiga tingkatan ini dengan mengatakan, “Adapun orang-orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan (Sabiqun bil khairat) adalah mereka yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan), adapun yang pertengahan adalah akan mendapat hisab yang mudah (yaitu diperlihatkan kepadanya amal-amalnya di dunia), adapun yang menganiaya dirinya adalah akan dihisab pada hari kiamat”. (HR. Ahmad)

Hadist tersebut menunjukkan bahwa orang yang telah memurnikan tauhidnya akan masuk surga tanpa hisab dan adzab, dimana sifat dari golongan ‘muqtasid’ adalah mengerjakan kewajiban dan meninggalkan keharaman. Mereka memurnikan tauhidnya dalam tingkatan wajib. Sedangkan golongan ‘sabiqun bil khoirot’ telah meninggalkan segala bentuk kesyirikan, kemaksiatan dan bid’ah. Bahkan lebih dari itu, dia juga meninggalkan perkara makruh dan sebagian perkara mubah karena khawatir terjerumus dalam keharaman. Dia juga senantiasa dalam ketaatan dengan mengerjakan kewajiban dan sunnah. Mereka memurnikan tauhidnya dalam tingkatan mustahab. Keduanya akan masuk surga tanpa hisab dan azab.

Sedangkan golongan yang menganiaya dirinya adalah pelaku dosa dari kalangan ahli tauhid. Mereka ini tidak menyekutukan Allah dengan memakai jimat atau perbuatan syirik lainnya, namun mereka bermaksiat. Maka mereka berhak mendapat ancaman atas perbuatannya. Bisa jadi Allah adzab mereka dan bisa jadi Allah ampuni dosa-dosanya, semua sesuai kehendak Allah.

Memurnikan tauhid mimpi belaka?

Mungkin sebagian orang akan meresa janggal dengan keteranggan tersebut, dan bertanya apakah ada orang di dunia ini yang bisa memurnikan tauhidnya? Maka perlu diketahui, bahwa orang yang telah memurnikan tauhidnya adalah orang yang bertemu Allah tanpa noda dosa sedikitpun, namun bukan berarti dia tidak pernah melakukan dosa sedikitpun di dunia. Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seluruh anak Adam pernah berbuat bersalah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah yang bertaubat”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad Darimy)

Maka bisa jadi seorang yang telah memurnikan tauhidnya hingga 24 karat dulunya pelaku kemaksiatan namun kemudian bertaubat lalu Allah terima taubatnya.

Contoh nyata pemurnian tauhid

1. Nabi Ibrohim AS sosok pribadi yang telah memurnikan tauhidnya

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk oranng-orang yang berbuat syirik” (QS. An-Nahl : 120)

Dalam ayat ini Allah menyebutkan beberapa sifat Nabi Ibrohim AS yang merupakan bentuk pemurnian tauhid. Sifat-sifat yang dimaksud adalah:

a. Seorang imam, yaitu terkumpul dalam dirinya segala sifat terpuji dan menjadi teladan dalam kebaikan.

b. Senantiasa patuh kepada Allah, melaksanakan perintah Allah, dan meninggalkan larangan-Nya.

c. Hanif, yaitu jauh dari jalannya orang-orang musyrik dan termasuk di dalamnya adalah segala perbuatan syirik, bid’ah, dan maksiat.

d. Tidak termasuk ke dalam golongan orang-orang musyrik baik secara perilaku maupun fisik. Beliau tidak pernah menyekutukan Allah sekaligus berlepas diri dari orang-orang yang menyekutukan-Nya dan tidak berkumpul dengan mereka.

2. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengabarkan tentang sebagian umat ini yang akan masuk surga tanpa hisab dan adzab, mereka memiliki beberapa sifat khusus yang menunjukkan kesempurnaan tauhidnya. Sifat-sifat itu adalah:

a. Tidak minta diruqyah

Seseorang yang minta diruqyah secara syar’i bukan berarti telah melakukan keharaman, namun terkadang dia telah kehilangan kesempatan emas untuk masuk surga tanpa hisab dan adzab. Hal ini karena kebanyakan orang yang minta diruqyah hatinya telah condong kepada ruqyah atau kepada orang yang meruqyahnya melebihi kecondongannya terhadap sebab lainnya semisal dokter atau obat-obatan. Ketergantungan hati terhadap ruqyah dan peruqyah merupakan syirik kecil yang mengurangi kesempurnaan tawakalnya kepada Allah sekaligus mengurangi kemurnian tauhidnya.

b. Tidak minta di-kay

Kay adalah salah satu metode pengobatan dengan menyulutkan besi panas pada bagian yang sakit dan termasuk dari metode yang dibolehkan secara syar’i. Sebagian orang meyakini bahwa kay adalah senjata pamungkas. Jika sudah pakai metode kay pasti penyakitnya segera sembuh. Keyakinan semacam inilah yang mengurangi kesempurnaan tawakal kepada Allah sekaligus mengurangi kemurnian tauhidnya.

c. Tidak ber-tathoyyur

Yang dimaksud dengan tathoyyur adalah merasa sial dengan sebuah kejadian. Keyakinan ini sudah terlanjur menjamur di masyarakat kita. Diantara bentuk tathoyyur misalnya keyakinan bahwa kejatuhan cicak pertanda nasib sial, menabrak kucing membawa sial, dan bulan Suro adalah bulan sial sehingga tabu untuk mengadakan resepsi pernikahan pada bulan tersebut.

d. Bertawakkal hanya kepada Allah

Bertawakkal adalah menyandarkan dan menggantungkan hati hanya kepada Allah dalam segala persoalan. Namun bukan berarti hanya diam dan berdo’a tanpa berusaha. Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berobat ketika sakit. Bukankah Nabi orang yang paling bertawakkal?

Semoga Allah memudahkan kita dalam memurnikan tauhid.

Penulis : Ustadz Roby Aryanto, S.T.

Muroja’ah : Ustadz Abu ‘Isa

Sumber : Buletin Jumat At-Tauhid Yogyakarta

Komentar
  1. alimmustafa mengatakan:

    semoga bisa memberikan manfaat
    amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s